Universitas Panji Sakti - Buleleng | Jl. Bisma No. 22 Singaraja Bali | info@unipas.ac.id | (0362) 23 588
HomeBerita UtamaNarasumber dalam FGD dengan tema “Masa Depan Hindu”

Narasumber dalam FGD dengan tema “Masa Depan Hindu”

Narasumber dalam FGD dengan tema “Masa Depan Hindu”

Dr. I Nyoman Gede Remaja, SH.,MH sekaligus Dekan Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti diminta sebagai Narasumber dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan oleh Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan pada tanggal 23 Nopember 2019 bertempat di Aula STAH N Mpu Kuturan Singaraja. Materi yang dibawakan adalah Eksistensi Awig-awig dalam Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Bali.

Pada hakekatnya negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dngan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI, yang diatur dalam UU (Pasal 18B ayat (2) UUD 1945). Pengakuan dan penghormatan ini diwujudkan dalam bentuk memberikan otonomi desa adat berupa pemberian kewenangan dan hak untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Hak otonomi terhadap desa adat di bali dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal yang dikenal dengan sad kerthi, yaitu: Penyucian Jiwa (atma kerthi), Penyucian Laut (segara kerthi), Penyucian Sumber Air (danu kerthi), Penyucian Tumbuh-tumbuhan (wana kerthi), Penyucian Manusia (jnana kerthi) dan Penyucian Alam semesta (jagat kerthi).

Untuk mewujudkan otonomi desa adat maka desa adat diberikan kewenangan untuk membuat aturannya sendiri, jika di Bali dikenal dengan nama awig-awig. Awig-awig ini sangat penting untuk melakukan perubahan sosial dan budaya, karena norma pada hakekatnya sebagai sarana untuk melakukan perubahan sosial  atau rekayasa sosial (social of engenering). Di samping itu, amanat Pasal 13 ayat (1) Peraturan Daerah Propinsi Bali tentang Desa Adat, yang menyatakan “Setiap Desa Adat memiliki awig-awig”. 

Lalu apa sebenarnya Awig-awig itu ?.  Awig-awig berasal dari kata “wig”, yang artinya rusak, ditambahkan awalan “a” menjadi awig, yang artinya tidak rusak. Jadi Awig dimaknai sebagai sesuatu yang tidak rusak atau sesuatu yang menjadi lebih baik. Karena itu, Awig-awig merupakan suatu ketentuan yang mengatur tata krama pergaulan hidup dalam masyarakat untuk mewujudkan tata kehidupan yang ajeg di masyarakat (Surpha, 2002:50).

Keberadaan generasi muda hindu untuk menjadi masa depan hindu yang lebih baik harus selalu mau dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman, apalagi menghadapi era globalisasi yang ditandai dengan kecanggihan teknologi (revolusi industri 4.0). Jika tidak mampu menyesuaikan diri maka generasi muda hindu akan tergerus dengan perkembangan yang ada, yang bisa saja generasi hindu menjadi korban dari perkembangan itu sendiri. Perubahan adalah suatu keniscayaan yang harus disadari dan diikuti oleh kita semua, tentu semua itu bisa direncanakan dan dikemas dengan baik. Salah satu mekanisme yang dapat dilakukan untuk mengkemas perubahan generasi hindu melalui awig-awig pada masing-masing desa adat di Bali. Awig-awig yang ada harus mampu memberikan perlindungan bagi generasi hindu dan tidak membelenggu aktivitas generasi itu di jaman kebebasan seperti sekarang ini. Awig-awig harus mampu memberikan cara dan jalan bagaimana beragama hindu yang dinamis dan fleksibel, sehingga beragama hindu tidak memberatkan bagi generasi muda hindu, karena pada hakekatnya beragama adalah upaya untuk memperoleh kebahagiaan.

Share With:
shares